Pengamat: Menggelar Pilkada di Tengah COVID-19, Hanyalah Bom Waktu

0
46
views
Diskusi Pilkada ditengah Pandemi COVID-19 yang digelar JRDP dengan pengamat politik dan AKademisi Ikhsan Ahmad (foto: chan)

SERANG, salakaNews – Pelaksanaan Pilkada di tengah Pandemi Covid-19 dinilai telah menabrak nilai kemanusiaan dan keselamatan, para elit politik seharusnya memberikan contoh dan keteladanan pada masyarakat ditengah situasi yang serba sulit dalam menanggulangi wabah COVID-19 yang terus mendera.

Bukan malah sebaliknya, kekuasaan malah mengalahkan segalanya, para politisi bak seperti kehilangan muka dan kepekaan terhadap penderitaan rakyat. Mereka secara terbuka mempertontonkan haus dan serakahnya terhadap kekuasaan. Tak peduli protes keras dari beberapa kalangan, hingga tak mengindahkan protocol kesehatan. Pelaksanaan pemilihan umum kepala daerah tetap digelar.

Berangkat dari itu, Pegamat Politik sekaligus Akademisi Ikhsan Ahmad menilai pasangan Calon kepala daerah (Paslon Pilkada) dianggap berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Mengingat taka da lagi bagi mereka zona merah, hijau, kuning, bahkan zona hitam penyebaran COVID-19. Karenanya setiap Paslon bakal mencuri peluang untuk berkampanye tatap muka, mereka kurang yakin bila harus kampanye melalui dalam jaringan (online).

“Saya berpendapat ketika Paslon tertangkap melanggar protokol Covid-19 maka pastikan jauhi, jangan dekati, dan jangan dipilih. Karena kalau melanggar, dia memiliki watak kekuasaan lama karena membahayakan masyarakat,” jelas Ikhsan, Rabu (30/9/20).

Lebih lanjut dikatakannya, ada beberapa persoalan strategis terkait pelaksanaan Pilkada di masa pandemi, selain mencerdaskan pemilih, juga ada kewajiban menyelamatkan nyawa pemilih.

“Harus ada timbal balik untuk menawarkan adaptasi baru, dari watak kekuasaan yang sebelumnya. Paslon itu penyakit dalam arti membawa virus,” kata Ikhsan, dalam Diskusi Reboan Jaringan Rakyat untuk Demokrasi dan Pemilu (JRDP) di Perumahan Citra Gading, Kota Serang.

Selain membahayakan masyarakat, Paslon yang melanggar ketentuan aturan Pilkada di tengah pandemi adalah bom waktu dalam waktu dekat.

“Saya pikir harus ada asumsi kuat Paslon itu biang penyakit. Jadi orang yang penuh hasrat kekuasaan itu seperti kasta Syudra, yang harus disikapi secara hati-hati,” pungkasnya.

(red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen + 17 =