Ancaman penyalahgunaan narkotika di kalangan generasi muda menjadi perhatian serius berbagai pihak. Untuk memperkuat upaya pencegahan, mahasiswa didorong mengambil peran sebagai agen perubahan yang mampu mengedukasi lingkungan sekitarnya sekaligus menjadi garda terdepan dalam gerakan anti narkoba.
Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk “Agent of Change against Drugs: Peran Mahasiswa Menjaga Masa Depan Bangsa” yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana (BEM FEB UMB), Jakarta.
Kegiatan ini menghadirkan Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, serta Ketua Ikatan Konselor Adiksi Indonesia DKI Jakarta, Ken Sheila Avandasweta.
Seminar nasional tersebut dibuka oleh Rektor Universitas Mercu Buana, Prof. Dr. Andi Adriansyah, M. Eng. Dalam sambutannya, Andi menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertanggung jawab mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki peran strategis dalam membangun karakter dan ketahanan generasi muda terhadap berbagai ancaman sosial, termasuk penyalahgunaan narkotika. Menurut dia, kampus harus menjadi ruang yang aman, sehat, dan produktif bagi mahasiswa untuk berkembang sebagai calon pemimpin bangsa.
Dalam pemaparannya, Suyudi menegaskan bahwa perang melawan narkotika tidak dapat dibebankan semata kepada aparat penegak hukum. Menurut dia, perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk membangun kesadaran kolektif sekaligus menciptakan lingkungan yang mendukung pencegahan penyalahgunaan narkoba.
“Kami tidak hanya datang untuk memberikan ceramah, tetapi mengajak seluruh sivitas akademika berdiri dalam satu barisan menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkotika,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada kualitas generasi muda saat ini. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia, menurut dia, hanya akan menjadi kekuatan apabila didukung sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berintegritas.
Data yang dipaparkan BNN menunjukkan bahwa kelompok usia pelajar dan mahasiswa termasuk kategori yang rentan terhadap penyalahgunaan narkotika. Faktor rasa ingin tahu, tekanan kelompok pergaulan, hingga kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan sosial kerap menjadi pintu masuk bagi penyalahgunaan zat terlarang.
Ancaman tersebut semakin kompleks seiring perkembangan teknologi digital. Peredaran narkotika kini memanfaatkan media sosial, aplikasi pesan tertutup, hingga transaksi pembayaran digital yang sulit terdeteksi. BNN juga menemukan modus baru berupa penggunaan cairan vape yang mengandung narkotika dan menyasar kalangan anak muda.
Sementara itu, Ken Sheila Avandasweta mengajak peserta memahami persoalan adiksi dari sudut pandang yang lebih luas. Menurut dia, adiksi bukan semata berkaitan dengan penggunaan zat, melainkan juga menyangkut kondisi psikologis, relasi sosial, dan kemampuan seseorang menghadapi tekanan hidup.
“Adiksi merupakan penyakit otak kronis yang ditandai perilaku kompulsif meskipun individu memahami konsekuensi negatif yang ditimbulkannya,” kata Ken.
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa berada pada fase emerging adulthood, yakni masa transisi menuju kedewasaan yang ditandai proses pencarian identitas sekaligus kerentanan terhadap berbagai perilaku berisiko. Karena itu, edukasi, pendampingan, dan dukungan lingkungan menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan.
Melalui seminar tersebut, mahasiswa FEB Universitas Mercu Buana didorong menjalankan peran sebagai agen perubahan melalui berbagai langkah konkret, mulai dari meningkatkan literasi mengenai bahaya narkotika, menjaga lingkungan pertemanan yang sehat, mengembangkan kegiatan positif, membangun kontra-narasi di ruang digital, hingga terlibat dalam advokasi kebijakan kampus terkait pencegahan penyalahgunaan narkoba.
Selain itu, BEM FEB UMB juga didorong mengembangkan program edukasi antarmahasiswa (peer-to-peer education), kampanye digital kreatif, serta kolaborasi riset bersama BNN guna memperkuat gerakan pencegahan berbasis kampus.
Seminar ini menjadi pengingat bahwa upaya memerangi narkoba membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kualitas generasi bangsa sekaligus menciptakan lingkungan yang sehat, produktif, dan bebas narkotika.














