Tidak semua pilihan di media sosial benar-benar lahir dari kehendak pengguna. Algoritma yang bekerja di balik platform digital kini semakin menentukan konten yang dikonsumsi, opini yang terbentuk, hingga keputusan yang diambil masyarakat, terutama generasi muda. Persoalan itulah yang menjadi pokok diskusi dalam Gen Z Speaks 2026: Aware or Controlled? yang digelar mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana di Swissôtel Jakarta PIK Avenue.
Di tengah derasnya arus informasi digital, algoritma media sosial tidak lagi sekadar menyajikan konten sesuai preferensi pengguna. Teknologi tersebut juga memengaruhi cara berpikir, membentuk persepsi, hingga memperkuat kecenderungan seseorang terhadap informasi tertentu. Kondisi ini menjadi tantangan baru bagi generasi muda yang merupakan pengguna media sosial terbesar.
Melalui kegiatan yang dikemas dalam format edutainment, mahasiswa mengajak peserta merefleksikan posisi mereka di ruang digital: apakah masih mengendalikan teknologi atau justru mulai dikendalikan oleh algoritma. Acara memadukan talkshow, diskusi interaktif, stand-up comedy, dan pertunjukan musik agar pesan literasi digital lebih dekat dengan karakter generasi muda.
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana, Dr. Farid Hamid, M.Si., mengatakan literasi digital kini menjadi kompetensi yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat.
“Kegiatan seperti ini sangat penting karena memberikan literasi digital kepada kita semua. Pemahaman terhadap perubahan dunia digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan,” ujarnya saat membuka acara.
Kegiatan ini dihadiri Wakil Rektor III Universitas Mercu Buana Dr. Irmulansati Tomohardjo, M.Si., Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Prof. Dr. Ahmad Mulyana, dosen, mahasiswa, masyarakat umum, serta 30 peserta Gen Z penyandang disabilitas sebagai wujud komitmen terhadap penyelenggaraan kegiatan yang inklusif.
Dalam sesi diskusi, Rian Fahardhi, Founder Distrik Berisik dan Sekolah Tanah Air, menjelaskan bahwa algoritma media sosial mampu membaca kebiasaan pengguna, mulai dari konten yang disukai hingga pola interaksi. Karena itu, menurut dia, generasi muda perlu memahami cara kerja teknologi agar tetap menjadi pihak yang mengendalikan media sosial, bukan sebaliknya.
Sementara itu, akademisi sekaligus pegiat literasi digital Dya Loretta menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dan membiasakan diri memverifikasi informasi sebelum mempercayai maupun membagikannya.
Selain menghadirkan diskusi, acara juga dimeriahkan penampilan Pandji Pragiwaksono, JFlow, dan Moluccan Soul.
Gen Z Speaks 2026 merupakan implementasi pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dalam Mata Kuliah Event Management. Seluruh proses penyelenggaraan, mulai dari penyusunan konsep, pencarian sponsor, publikasi, pengelolaan peserta, hingga pelaksanaan acara, dirancang dan dijalankan oleh mahasiswa Kelas Reguler 2 Program Studi Ilmu Komunikasi di bawah bimbingan Dr. Gadis Octory, S.I.Kom., M.I.Kom., selaku dosen pengampu Mata Kuliah Event Management.
Melalui kegiatan ini, Universitas Mercu Buana tidak hanya menghadirkan ruang diskusi mengenai literasi digital, tetapi juga memberikan pengalaman belajar langsung kepada mahasiswa dalam mengelola sebuah acara profesional sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang lebih kritis, adaptif, dan bertanggung jawab dalam menghadapi pengaruh algoritma media sosial.














