FEB UMB Dorong Kolaborasi untuk Daya Saing Pangan dan Energi

0
3
views
Prod. Dr. Andi Adriansyah, M. Eng., Rektor Universitas Mercu Buana Membuka Acara Simfoni 2026

JAKARTA — Ketahanan pangan dan transisi energi tidak lagi dapat diselesaikan melalui pendekatan sektoral. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, transformasi digital, dan tuntutan penerapan prinsip keberlanjutan (Environmental, Social, and Governance/ESG), kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan regulator menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga daya saing nasional.

Persoalan itu menjadi benang merah dalam Simposium Nasional Forum Inovasi Ekonomi dan Bisnis (SIMFONI) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mercu Buana (UMB) di Aula Gedung Rektorat Kampus Meruya, Jakarta, Kamis (16/7/).

Mengusung tema “Penguatan Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan Sektor Pangan dan Energi Melalui Strategi Korporasi, Akuntabilitas, dan Penciptaan Nilai Jangka Panjang”, forum ilmiah tersebut mempertemukan akademisi, praktisi, regulator, pelaku industri, dan mahasiswa untuk membahas strategi menghadapi perubahan lanskap ekonomi yang semakin kompleks.

Rektor Universitas Mercu Buana, Prof. Dr. Ir. Andi Adriansyah, M.Eng., yang membuka simposium sekaligus menjadi keynote speaker, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab lebih dari sekadar menghasilkan lulusan. Menurutnya, kampus harus menjadi ruang lahirnya gagasan, riset, dan kolaborasi yang mampu menjawab tantangan pembangunan nasional.

“Perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus simpul kolaborasi berbagai pemangku kepentingan untuk menghasilkan solusi nyata bagi peningkatan daya saing bangsa,” ujar Andi.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi sektor pangan dan energi tidak cukup direspons melalui inovasi teknologi semata. Diperlukan tata kelola yang baik, strategi bisnis yang adaptif, serta keberanian membangun kemitraan lintas sektor agar transformasi menuju ekonomi berkelanjutan dapat berjalan lebih efektif.

 

Diskusi menghadirkan empat narasumber yang mewakili perspektif akademik dan industri, yakni Prof. Drs. Bernardinus M. Purwanto, M.B.A., Ph.D. dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Roy H.M. Sembel, M.B.A., Ph.D., CSA., CIB. dari IPMI International Business School, Prof. Dr. Wiwik Utami, Ak., M.Si., CA dari Universitas Mercu Buana, serta Dr. Drs. Johansyah Anwar, BBA., MBA (USA), CPAE (UK) selaku Presiden Komisaris PT Karunia Multifinance. Jalannya forum dipandu dosen FEB Universitas Mercu Buana, Dr. Daru Asih, M.Si.

Para pembicara menyoroti pentingnya membangun strategi korporasi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga menciptakan nilai jangka panjang melalui tata kelola perusahaan yang akuntabel, pengelolaan risiko yang lebih adaptif, dan inovasi bisnis yang memperhatikan aspek keberlanjutan.

Sektor pangan dan energi dinilai menjadi dua bidang yang paling membutuhkan transformasi tersebut karena memiliki keterkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi, kesejahteraan masyarakat, serta ketahanan nasional. Dalam konteks itu, penerapan prinsip ESG dipandang bukan lagi sekadar pemenuhan regulasi, melainkan strategi untuk meningkatkan daya saing perusahaan di tengah perubahan pasar global.

Forum juga menggarisbawahi pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun ekosistem ekonomi yang lebih tangguh. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan, memperkuat praktik bisnis yang berkelanjutan, sekaligus memperkaya agenda riset yang relevan dengan kebutuhan pembangunan.

Bagi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana, penyelenggaraan SIMFONI 2026 menjadi bagian dari komitmen memperkuat budaya akademik yang berorientasi pada dampak. Melalui forum ilmiah seperti ini, hasil riset diharapkan tidak berhenti sebagai wacana akademis, tetapi dapat menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan publik maupun strategi bisnis yang mampu menjawab tantangan pembangunan ekonomi Indonesia di masa depan.