Lesehan Sastra Pemuda: Dari Diskusi Publik Menuju Antologi Puisi Orang Tangerang

0
17
views

KOTA TANGERANG, Salakanews.com – DPD KNPI Kota Tangerang menyelenggarakan Diskusi Publik “Lesehan Sastra Pemuda” dengan mengusung tema “Generasi Digital, Literasi Menurun atau Berubah?”. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara pemuda, mahasiswa, akademisi, jurnalis, pegiat literasi, dan masyarakat untuk membahas masa depan literasi di tengah perkembangan teknologi digital. Lebih dari sekadar forum diskusi, kegiatan ini menjadi ikhtiar membangun budaya berpikir kritis, memperkuat karakter, serta meneguhkan sastra sebagai bagian dari pembangunan peradaban.

Ketua Pelaksana, Muhammad Robby dalam sambutannya menyampaikan bahwa Lesehan Sastra Pemuda lahir dari keyakinan bahwa literasi merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi yang cerdas, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial.

“Derasnya arus informasi di era digital harus diimbangi dengan kemampuan membaca secara kritis, berdialog secara sehat, dan menghasilkan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat”, jelas Robby.

Dalam sambutannya, Ketua DPD KNPI Kota Tangerang, Dede Maulana Faisal menegaskan bahwa organisasi kepemudaan memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan ruang-ruang intelektual yang mampu menumbuhkan tradisi membaca, menulis, dan berdiskusi.

(Foto Istimewa: Sambutan Ketua DPD KNPI Kota Tangerang)

“Kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia, kekuatan budaya literasi, serta nilai-nilai moral yang hidup di tengah masyarakat”, tegas Dede.

Sesi diskusi publik dihadirkan tiga narasumber, yaitu Ayu Cipta, Penulis dan Jurnalis Tempo; Ismalinar, akademisi; serta Syahrian, pegiat literasi. Ketiganya mengulas perubahan pola literasi di era digital dari berbagai perspektif, mulai dari media, pendidikan, hingga gerakan literasi masyarakat. Diskusi menegaskan bahwa literasi tidak sedang hilang, melainkan mengalami transformasi yang menuntut kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, dan memanfaatkan teknologi secara bijak.

Jalannya diskusi dipandu oleh Ega Lazuardi, Sekretaris DPD KNPI Kota Tangerang, selaku moderator. Dengan suasana yang interaktif, peserta diajak tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga menyampaikan pandangan dan pengalaman mengenai tantangan literasi serta peran pemuda dalam menjaga budaya berpikir di tengah derasnya arus informasi digital.

Istimewa: Diskusi Sastra

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Panggung Puisi yang menghadirkan pembacaan karya dari para penyair dan pegiat sastra Kota Tangerang. Pembacaan puisi menjadi ruang ekspresi yang menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan, kepedulian sosial, serta kecintaan terhadap Kota Tangerang. Sastra diposisikan sebagai media yang mampu menjaga nurani, merawat kepekaan, dan memperkuat identitas budaya masyarakat.

Momentum tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses penyusunan Buku Antologi Puisi Orang Tangerang. Sebanyak 500 puisi karya penulis dan penyair asal Kota Tangerang telah dihimpun dan melalui proses seleksi, penyuntingan, serta kurasi oleh tim editor dan kurator. Karya-karya terpilih nantinya akan diterbitkan dalam sebuah buku antologi sebagai dokumentasi perjalanan sastra sekaligus warisan intelektual masyarakat Kota Tangerang.

(Foto istimewa: Pembacaan Karya Sastra)

Penerbitan antologi ini diharapkan menjadi ruang apresiasi bagi para penulis lokal sekaligus mendorong lahirnya generasi baru yang mencintai dunia literasi dan kesusastraan. Buku tersebut tidak hanya menjadi kumpulan puisi, tetapi juga merekam gagasan, keresahan, harapan, dan identitas masyarakat Kota Tangerang yang dituangkan melalui bahasa sastra.

Menutup rangkaian kegiatan, Ega Lazuardi menyampaikan bahwa kemajuan teknologi harus dimanfaatkan untuk memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan tanpa mengabaikan nilai-nilai moral, etika, dan budaya membaca.

“Melalui Lesehan Sastra Pemuda, DPD KNPI Kota Tangerang berharap gerakan literasi terus tumbuh sebagai fondasi lahirnya generasi yang cerdas, berkarakter, kreatif, dan mampu membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan serta karya sastra”, tutup Ega.

Red