Meneladani Spirit Empu: Di Mana Peran Perempuan Indonesia Hari Ini ?.

0
17
views

Kota Tangerang, salakanews.com – Delapan puluh satu tahun telah berlalu, tepatnya di jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta Pusat. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pertama kali digemakan, proklamasi kemerdekaan tidak hanya bermakna kebebasan bangsa dari kolonialisme dan imperialisme, melainkan juga ditentukan oleh sejauh mana setiap elemennya, terutama perempuan dapat merasakan kemerdekaan dan kesetaraan yang sejati.

Perempuan berakar dari hakikat kata empu yang mengusung nilai kemuliaan, kehormatan, dan kemandirian, sejarah Indonesia mencatat bahwa perempuan menjadi salah satu pilar tak tergantikan dalam merebut kedaulatan bangsa.  Namun, di tengah dinamika zaman yang kian kompleks, sebuah pertanyaan mendasar patut kita renungkan kembali: “Dimanakah posisi, sumbangsih, dan suara perempuan Indonesia hari ini?”.

Mengurai peran perempuan saat ini bukan hanya sebatas menuntut pengakuan, melainkan sebuah penegasan akan kepemimpinan dan daya cipta mereka dalam menentukan arah masa depan Republik Indonesia.

Kata perempuan secara etimologis mengakar dari kata dasar “empu” yang dalam bahasa Jawa kuno merujuk pada sosok tuan, figur mulia, orang terhormat, serta individu yang mahir dan berkuasa. Melalui pembentukan tata bahasa dengan konfiks per-an, kata ini berkembang menjadi perempuan yang mengusung makna filosofis mendalam menempatkan sosok perempuan bukan sebagai objek, melainkan subjek yang mandiri, terhormat, dan memiliki daya serta kendali atas dirinya sendiri.

Secara kebahasaan, penambahan per-an pada kata dasar empu (per- empu -an) berfungsi membentuk kata benda yang mengikat nilai abstrak dan kolektif. Berbeda dari anggapan umum mengenai penyisipan huruf pelancar, huruf r pada awalan per- bukanlah huruf tambahan yang disisipkan di tengah jalan, melainkan bagian utuh dari bentuk asli imbuhan tersebut sejak era bahasa purba (Proto-Austronesia: *paR-).

Kehadiran fonem /r/ ini secara struktural bertindak sebagai pembeda fungsi tata bahasa, memisahkan peran konfiks per-an dari imbuhan pe- yang umumnya menyatakan pelaku atau alat. Dalam proses pembentukannya, tidak terjadi penyisipan fonem baru seperti halnya proses asimilasi pada imbuhan meN- atau peN- (seperti baca \ membaca). Imbuhan per- melekat secara utuh pada kata dasar empu. Konsonan akhir /r/ pada awalan per- secara alami langsung menyatu dengan vokal awal /e/ pada kata dasar empu. Integrasi bunyi ini menghasilkan pemenggalan suku kata pe-rem-pu-an yang efisien secara artikulasi lidah, sekaligus mengunci nilai kehormatan martabat empu ke dalam satu entitas kata yang utuh.

Sejarah perjuangan bangsa khususnya di tanah Tangerang terukir indah dari peluh dan keberanian para pejuang perempuan di garis depan. Satu nama yang melekat yaitu Nyimas Melati, beliau dijuluki Singa Betina dari Tangerang, hal ini tentu saja menjadi bukti nyata betapa perempuan lokal berdiri tegak memimpin perlawanan melawan penindasan kolonial dan sistem tuan tanah di bumi Cisadane. Berdampingan dengan jejak para tokoh nasional seperti Cut Nyak Dhien hingga Maria Ullfah.

Keteguhan Nyimas Melati membuktikan bahwa keberanian dan jiwa kepemimpinan perempuan telah membakar semangat pergerakan dari akar rumput demi mempertahankan kehormatan tanah kelahirannya. Menarik benang merah ke era modern, semangat perlawanan tersebut telah bertransformasi secara fundamental di bumi Tangerang hari ini. Medan juang perempuan tak lagi berhadapan dengan meriam atau benteng-benteng penjajah, melainkan bertarung melawan musuh-musuh zaman baru, seperti ketimpangan ekonomi, kebodohan, serta keterbatasan ruang bertumbuh. Meneladani spirit keberanian Nyimas Melati, pergerakan perempuan dalam mengisi kemerdekaan saat ini terwujud dalam tiga peran nyata:

1. Pendidik Generasi dan Penanam Karakter; Baik di dalam rumah tangga maupun di lembaga-lembaga pendidikan, perempuan bertindak sebagai arsitek utama pencetak generasi penerus bangsa. Lewat dedikasi mendidik di ruang-ruang kelas dan pengasuhan di rumah, perempuan tidak hanya melakukan transfer of knowledge, tetapi juga transfer of value yaitu dengan menyemai nilai moral, etika, dan ketangguhan karakter agar generasi muda siap melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa.

2. Penggerak Ekonomi Lokal dan Ketahanan Keluarga: Ketahanan ekonomi nasional berawal dari ketahanan suatu keluarga, perempuan kini tampil sebagai motor penggerak ekonomi baik lokal maupun nasional melalui keberanian merintis UMKM, mengolah potensi produk lokal, hingga membuka lapangan kerja bagi lingkungan sekitar. Kemandirian ekonomi ini menjadi pembuktian bahwa daya cipta perempuan mampu mendongkrak kesejahteraan masyarakat secara signifikan.

3. Pemimpin dan Pengambil Keputusan yang Berdampak; Kehadiran perempuan di panggung kepemimpinan mulai dari ranah sekolah, komunitas sosial, hingga kebijakan publik menghadirkan perspektif yang inklusif, empatik, dan solutif. Kepemimpinan perempuan lahir membawa keberanian dalam mengambil sebuah keputusan strategis, memastikan setiap kebijakan yang diambil mampu memberi dampak perubahan nyata bagi khalayak luas.

Melalui ketiga peran inilah, perempuan modern di bumi Cisadane dan seluruh pelosok negeri terus merawat api pergerakan memastikan bahwa kemerdekaan yang diperjuangkan para pendahulu tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan wujud nyata dari keberdayaan dan kesejahteraan bersama. Namun, keberdayaan tersebut bukan tanpa ujian, dibalik besarnya kontribusi di ranah publik dan domestik, perempuan modern masih harus berhadapan dengan realita beban ganda yang melelahkan. Ekspektasi masyarakat yang masih dibayangi stereotipe lama kerap menuntut perempuan untuk tampil sempurna memimpin perubahan di luar, tanpa sedikit pun mengendurkan tanggung jawab domestik di rumah.

Stigma bahwa kiprah perempuan hanyalah “pelengkap” sering kali menjadi tembok tak kasat mata yang membatasi potensi terbaik mereka untuk melangkah lebih jauh. Di sisi lain, perjuangan mengisi kemerdekaan hari ini menuntut hadirnya ruang aman dan kesempatan yang setara. Perempuan tidak hanya membutuhkan apresiasi berupa kata-kata, melainkan akses nyata terhadap keterjangkauan modal usaha, literasi teknologi digital, hingga jaminan perlindungan hukum yang tegas dari segala bentuk diskriminasi dan kekerasan. Tanpa hadirnya ekosistem yang adil dan mendukung, cita-cita menempatkan perempuan sebagai subjek terhormat yang mandiri akan selalu terbentur oleh ketimpangan di lapangan.

Pada akhirnya, kemajuan Kota Tangerang tidak akan pernah berdiri utuh selama perempuan di bumi Cisadane ini masih dibayangi stigma dan keterbatasan ruang bertumbuh. Mengembalikan marwah perempuan pada hakikat empu bukanlah tentang menuntut keistimewaan, melainkan menegakkan kembali martabat sejati mereka bahwa perempuan Kota Tangerang adalah pemilik daya, arsitek peradaban, dan pilar utama kedaulatan daerah.

Dari jejak keberanian Nyimas Melati di tepi Cisadane hingga gerak UMKM dan ruang-ruang kelas Kota Tangerang hari ini, perempuan telah membuktikan bahwa mereka adalah subjek utama penggerak zaman, bukan sekadar penonton sejarah. ​Sebab, merawat dan melapangkan jalan bagi daya cipta perempuan Kota Tangerang bukanlah sekadar seruan apresiasi, melainkan sebuah janji kebangsaan dan komitmen nyata bagi masa depan kota ini. Mari kita runtuhkan sekat-sekat pembatas, hadirkan ruang aman, serta bangun kemitraan yang sepadan bagi perempuan di seluruh penjuru Kota Tangerang. Karena pada setiap derap langkah perempuan Tangerang yang berdaya, di situlah masa depan kota ini dan Indonesia sedang ditenun menuju kejayaannya.

Penulis : Armenia Almatin, S.Pd., Gr.

Red