Rwanda tengah memperluas akses pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia untuk menjawab kebutuhan pembangunan negaranya. Universitas Mercu Buana menjadi salah satu perguruan tinggi di Indonesia yang disiapkan untuk membuka akses tersebut, mulai dari pendidikan sarjana hingga doktoral.
Peluang itu mengemuka dalam penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Universitas Mercu Buana (UMB) dan Kedutaan Besar Republik Rwanda di Indonesia, Selasa (29/9/2026), di Gedung Rektorat UMB, Jakarta.
Duta Besar Rwanda untuk Indonesia H.E. Sheikh Abdul Karim Harelimana mengatakan, kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada hubungan diplomatik antarlembaga. Rwanda membutuhkan lebih banyak tenaga terdidik yang dapat mendukung pembangunan di berbagai bidang.
“Kami berharap isi kesepakatan ini segera dijalankan,” ujar Harelimana.
Menurut dia, Rwanda membuka peluang pengiriman mahasiswa ke Indonesia untuk menempuh pendidikan pada jenjang sarjana, magister, hingga doktor. Bidang sains dan teknik, teknologi informasi, serta robotika menjadi beberapa bidang yang mendapat perhatian.
Namun, kebutuhan Rwanda tidak hanya berada pada bidang teknologi. Salah satu kebutuhan yang disoroti adalah tenaga profesional di bidang psikologi dan konseling.
Harelimana mengatakan kebutuhan tersebut berkaitan dengan proses pemulihan masyarakat Rwanda dari dampak sejarah konflik dan genosida terhadap kelompok Tutsi.
“Kami membutuhkan tenaga ahli psikologi sebanyak mungkin. Ini bukan sekadar kebutuhan ilmu pengetahuan, melainkan kebutuhan nyata bagi proses pemulihan bangsa kami,” katanya.
Kebutuhan Rwanda, Peluang UMB
Kerja sama dengan Rwanda memberikan peluang bagi UMB untuk memperluas peran internasionalnya, bukan hanya melalui penerimaan mahasiswa asing, tetapi juga melalui pengembangan kerja sama akademik dengan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan di Rwanda.
Rektor UMB Prof. Dr. Ir. Andi Adriansyah, M.Eng., mengatakan pihaknya membuka ruang untuk mengembangkan kerja sama pada bidang pendidikan, mobilitas mahasiswa dan dosen, penelitian, beasiswa, serta pertukaran budaya.
“Melalui kemitraan ini, kami berkomitmen memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, kegiatan akademik, pertukaran budaya, mobilitas mahasiswa, pemberian beasiswa, penelitian, serta bidang lain yang saling menguntungkan,” ujar Andi.
Kerja sama tersebut memiliki modal awal. UMB saat ini telah menerima mahasiswa asal Rwanda, Safari Mugisha Dieudonne, yang menempuh pendidikan pada Program Sarjana Internasional Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Keberadaan mahasiswa tersebut menunjukkan bahwa hubungan akademik antara UMB dan Rwanda telah berlangsung sebelum MoU ditandatangani.
Andi mengatakan pengalaman tersebut dapat dikembangkan menjadi hubungan yang lebih luas dengan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan di Rwanda.
“Kami berharap MoU ini membuka peluang menjalin hubungan dengan perguruan tinggi dan lembaga-lembaga di Rwanda serta melahirkan program nyata dan berkelanjutan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh mahasiswa, tenaga pengajar, dan masyarakat di kedua belah pihak,” katanya.
MoU Diuji oleh Implementasi
Kedutaan Besar Rwanda selanjutnya akan membantu memperkenalkan UMB kepada perguruan tinggi di Rwanda, baik negeri maupun swasta. Dari kerja sama tersebut, peluang pertukaran mahasiswa dan dosen, penelitian bersama, serta program beasiswa dapat dikembangkan.
Harelimana berharap mahasiswa Rwanda yang memperoleh pendidikan di Indonesia dapat membawa kembali pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk berkontribusi terhadap pembangunan negaranya.
Dalam jangka panjang, ia juga berharap terbentuk jaringan alumni UMB di Rwanda.
Bagi kedua pihak, mobilitas akademik menjadi salah satu cara memperkuat hubungan Indonesia dan Rwanda pada tingkat masyarakat. Pertukaran mahasiswa dan dosen memungkinkan hubungan kedua negara tidak hanya berlangsung melalui pemerintah dan institusi, tetapi juga melalui komunitas akademik.
“Kerja sama ini tidak hanya menyangkut pimpinan lembaga, melainkan langsung menyentuh masyarakat—mahasiswa bertemu dengan mahasiswa, tenaga pengajar bertemu dengan rekan sejawatnya,” ujar Harelimana.
Penandatanganan MoU tersebut karena itu menjadi tahap awal. Ukuran keberhasilannya akan bergantung pada implementasi: berapa banyak mahasiswa yang dapat belajar, program pertukaran yang berjalan, penelitian yang dihasilkan, serta bentuk kerja sama pendidikan yang benar-benar terbentuk antara UMB dan institusi di Rwanda.
Kerja sama pendidikan Indonesia-Rwanda pun tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan. Bagi Rwanda, pendidikan menjadi bagian dari pembangunan sumber daya manusia. Bagi UMB, kerja sama tersebut membuka ruang untuk memperluas jejaring akademik dan internasionalisasi perguruan tinggi.














