Riset Psikologi dan AI Jadi Sorotan dalam Konferensi Internasional Fakultas Psikologi UMB

0
2
views

JAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menghadirkan peluang besar bagi pembangunan manusia. Namun, kemajuan teknologi juga menyisakan pertanyaan mendasar: bagaimana memastikan inovasi digital berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan dan kepentingan manusia?

Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam The 23rd International Postgraduate Research Colloquium (IPRC 2026) yang diselenggarakan di Jakarta, Sabtu (31/10/2026). Forum akademik internasional ini mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa pascasarjana, dan para ahli untuk membahas hubungan antara pembangunan manusia, keberlanjutan, dan kecerdasan buatan.

Mengusung tema Human Development, Sustainability, and Artificial Intelligence: Fostering Harmony Between Humans, Nature, and Technology, konferensi ini menempatkan perkembangan teknologi dalam perspektif yang lebih luas. AI tidak semata-mata dipandang sebagai instrumen efisiensi dan inovasi, tetapi juga perlu dikaitkan dengan kualitas kehidupan manusia serta keberlangsungan alam.

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, Laila Meiliyandrie Indah Wardani, S.Psi., MA., M.Psi., Ph.D., Psikolog, turut hadir dan menyampaikan sambutan dalam pembukaan IPRC 2026. Kehadirannya menegaskan keterlibatan Fakultas Psikologi UMB dalam penyelenggaraan forum akademik internasional yang mempertemukan peneliti dan akademisi untuk membahas isu pembangunan manusia, keberlanjutan, serta perkembangan kecerdasan buatan.

Wakil Rektor Universitas Mercu Buana, Prof. Rizki Briandana, S.I.Kom., M.Comm., Ph.D., berharap forum akademik internasional tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi juga menghasilkan penelitian yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Saya berharap forum ini dapat menghasilkan riset-riset berkualitas yang tidak hanya memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar pria yang akrab disapa Prof. Kiko tersebut.

Ia menambahkan, hasil penelitian dan pertukaran gagasan dalam forum ini diharapkan dapat memberikan perspektif serta wawasan baru bagi Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan ke depan.

Salah satu pembicara utama, Assoc. Prof. Geerhardt Kornatowski, Ph.D., dari Kyushu University, Jepang, mengangkat persoalan keberadaan masyarakat dan relasi sosial dalam perkembangan tata kelola perkotaan berbasis teknologi. Melalui kajiannya mengenai migrasi dan kehidupan perkotaan di sejumlah negara Asia, ia menyoroti pentingnya ruang sosial yang memungkinkan kelompok masyarakat, termasuk migran, memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dan menyuarakan kebutuhannya.

Dalam presentasinya, Kornatowski menekankan bahwa “pengetahuan masyarakat dan deliberasi publik tetap penting di era kecerdasan buatan.”

Sementara itu, Prof. Dian Ratna Sawitri, Ph.D., dari Universitas Diponegoro, mengangkat isu keberlanjutan karier melalui presentasi bertajuk Building Sustainable Careers for a Sustainable Future: From Individual Agency to Career Ecosystems.

Menurut Dian, perubahan teknologi, otomatisasi, ketidakpastian ekonomi, dan dinamika hubungan kerja telah mengubah dunia pekerjaan. Kondisi tersebut menuntut individu untuk terus belajar, meningkatkan keterampilan, dan beradaptasi sepanjang perjalanan kariernya.

Namun, kemampuan individu untuk beradaptasi tidak cukup jika tidak didukung lingkungan sosial dan kesempatan yang memadai. “Keberlanjutan karier tidak dapat sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu,” tegas Dian.

Persoalan lain disampaikan Prof. Paula Brough, Ph.D., dari Griffith University, Australia. Melalui presentasi Surviving Continuous Turbulence: Insights for Flourishing in Our 2030s Workplaces, ia menyoroti tekanan berkelanjutan yang dihadapi dunia kerja akibat perubahan politik, teknologi, ekonomi, dan regulasi.

Menurut Paula, percepatan transformasi digital dan penerapan AI membawa perubahan terhadap pembagian tugas, desain pekerjaan, serta kompetensi yang dibutuhkan pekerja. Meskipun teknologi berpotensi meningkatkan produktivitas organisasi, penerapannya juga menghadirkan tantangan berupa kesiapan pekerja, perubahan peran, dan kepercayaan terhadap sistem AI.

“Penerapan sistem baru secara berkelanjutan merupakan hal penting yang sering kali terabaikan,” ungkap Paula.

Ketiga perspektif tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan berkelanjutan membutuhkan pendekatan lintas disiplin. Perkembangan teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas manusia, perlindungan kelompok rentan, penciptaan lingkungan kerja yang sehat, serta kebijakan yang berpijak pada kebutuhan masyarakat.

IPRC 2026 menghadirkan tiga pembicara utama, yakni Assoc. Prof. Geerhardt Kornatowski dari Kyushu University, Prof. Dian Ratna Sawitri dari Universitas Diponegoro, dan Prof. Paula Brough dari Griffith University. Forum ini juga menghadirkan Gubernur DKI Jakarta, Dr. Ir. Pramono Anung Wibowo, M.M., sebagai pembicara undangan.

Rangkaian kegiatan berlangsung melalui sesi utama pada pukul 08.00–12.00 WIB dan sesi paralel pada pukul 13.00–17.00 WIB. Sesi paralel memberikan ruang bagi peneliti dan mahasiswa pascasarjana untuk mempresentasikan serta mendiskusikan hasil penelitian.

Melalui IPRC 2026, kolaborasi akademik lintas negara diharapkan tidak hanya memperkaya pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendorong lahirnya solusi terhadap berbagai persoalan pembangunan. Sebab, tantangan masa depan bukan sekadar menciptakan teknologi yang semakin canggih, melainkan memastikan kemajuan tersebut tetap berpihak pada manusia, masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.