Hubungan antara Pelatihan dan Ilmu Pengetahuan dalam Mencetak Generasi Bangsa

0
219
views
ilustrasi gambar (foto:dok)

Hubungan antara Pelatihan dan Ilmu Pengetahuan dalam Mencetak Generasi Bangsa

 

Oleh : Dede Kurniawan

Pendidikan menjadi alat sebagai transfer amanah yang bersumber dari Allah, ilmu pengetahuan yang didapatkan melalui proses pendidikan yaitu dengan cara belajar, penelitian dan adanya manifestasi dalam lingkungan sosial masyarakat.

Pendidikan pada gilirannya nanti akan memberikan saham untuk ikut memecahkan permasalahan sosial kontemporer, pendidikan juga akan menumbuhkan konsep-konsep kemanusiaan yang baik diantara sesama manusia untuk menuju situasi saling pengertian diantara sesama manusia, pendidikan tidak berada dalam ruang hampa.

Pendidikan berada dalam ruang konteks artinya pendidikan adalah wahana, sarana, proses juga sekaligus alat mentransfer amanah dsri orangtua kepada anak, dari guru kepada murid, dari dosen kepada mahasiswa, dari nenek moyang kepada cucunya yang bersumber dari Allah.

Pendidikan akan bermanfaat di sepanjang masa, banyak generasi yang terjebak salah kaprah dalam berkiprah akhirnya masuk kedalam tong sampah.

Potret generasi bangsa saat ini mengalami degradasi moral. Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) terjadi hampir diberbagai elemen negara khususnya pemerintahan ditingkat pusat, daerah sampai desa, satu contoh kasus e-KTP.

Regenerasi harus dipersiapkan untuk menghadapi tantangan zaman yang menuntut generasi memiliki kompetensi atau keahlian dibidang masing-masing baik sosial, hukum, politik, tekhnologi dan sebagainya agar mampu bersaing dengan bangsa yang lain, karena kalau tidak bangsa kita akan selalu di jajah melalui perekonomian, tekhnologi, politik, hukum, bisa dikatakan lebih berbahaya dari penjajahan fisik yang pernah dialami bangsa Indonesia sebelumnya.

Sejak bangsa Indonesia dijajah oleh imperialis Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang, rakyat Indonesia dan tokoh-tokoh perjuangan baik dari golongan Ulama, santri, maupun golongan kebangsaan selalu mengedepankan persatuan dan kesatuan untuk melawan penjajahan melalui perjuangan secara fisik, ilmu pengetahuan (politik) dan do’a yang kemudian pada gilirannya bangsa Indonesia mampu menjadi negara merdeka.

Potret perjuangan rakyat Indonesia bersama tokoh pejuangnya menjadi fakta sejarah yang harus di elaborasi agar generasi bangsa Indonesia saat ini mampu mengikuti spirit perjuangan para pejuang sebelumnya.

Jika para generasi hanya dicerdaskan, diberi ilmu pengetahuan tanpa dilatih, tanpa dikenalkan dengan dirinya,( ﻣﻦ ﻋﺮﻑ ﻧﻔﺴﻪ ﻓﻘﺪ ﻋﺮﻑ ﺭﺑﻪ ), maka akan terjadi istilah teoritis, omong doang (OMDO), no action talk only (NATO) atau iso ngujar ora iso ngelakoni (IJARKONI).

Jika para generasi hanya diberi pelatihan tanpa ilmu pengetahuan dan tidak dikenalkan dengan dirinya ( ﻣﻦ ﻋﺮﻑ ﻧﻔﺴﻪ ﻓﻘﺪ ﻋﺮﻑ ﺭﺑﻪ ), maka akan muncul arogan, akan mengedepankan ego, sehingga dari ego itu sendiri kadang-kadang mementingkan pribadi, kelompok, mengesampingkan kebersamaan.

Jika para generasi tidak diberi ilmu pengetahuan, lantas pelatihannya tinggi, kemudian muncul kerinduan terhadap sesuatu tidak dibarengi ilmu pengetahuan, ini akan melahirkan langkah-langkah kontradiktif, seperti satu contoh sebagai bahan analisis terjadinya mala petaka, prahara, kenapa terjadi pengeboman. Ini dari mana sumbernya ?

Sumbernya tidak lain adalah dari kelompok yang kerinduan mistisnya tinggi, ilmu pengetahuannya tidak ada.

Sebaliknya apabila para generasi hanya mengenal dirinya ( ﻣﻦ ﻋﺮﻑ ﻧﻔﺴﻪ ﻓﻘﺪ ﻋﺮﻑ ﺭﺑﻪ ) semata tanpa ilmu pengetahuan dan pelatihan, ini juga bukn hal yang mustahil akan munculnya generasi yaitu dimana generasi tadi akan menjadi generasi yang susut sebelum sesat, kenapa demikian ? Ilmu pengetahuan berperan, latihan sangat penting, sehingga bisa jadi seseorang bisa muncul dengan daya dan upaya mengantarkan diri pribadi dengan cara tadi, mengenal diri pribadi tanpa dibarengi ilmu pengetahuan kemudian jadi imam dan diikuti oleh pengikutnya lalu membuat kebijakan.

Kebijakan yang tidak berdasarkan kepada ilmu pengetahuan akhirnya merugikan hal layak, merugikan ajaran Islam. Satu contoh menganggap manusia najis, sehingga apabila dia shalat kemudian pulang bekasnya itucdi cuci, di elap.

Hal tersebut adalah kebijakan dari imam yang tadi melangkah upaya mistisnya tinggi, ilmu pengetahuannya kosong.

Apabila memperhatikan langkah perjalanan para Aulia Illah Wali Songo dalam waktu yang relatif singkat bisa menyelesaikan masalah-masalah sosial, menyelesaikan masalah tanpa melahirkan masalah.

Saya mengutip pemikiran Guru Besar dan Pembina Pondok Pesantren Lingkungan Hidup Al-Ihya Kaduronyok (SM. Fu’ad Halimi Salim) bahwa beliau mengambil tiga petikan dari perjalanan para Aulia Illah Wali Songo yaitu (1) Jihad bersungguh-sungguh dengan cara mengedepankan fisik, (2) Ijtihad yaitu bersungguh-sungguh dengan cara mengedepankan ilmu pengetahuan dan (3) Mujahadah yaitu bersungguh-sungguh dengan cara megedepankan qolbu. Tiga petikan diatas tidak bisa dipisahkan dan bersatu dalam satu muara diri manusia. beliau juga berkata kalau saja saya ditanya tentang guru, siapakah guru yang akan saya pilih maka saya akan mengatakan memilih seorang guru yang berlatar belakang jelas, berilmu pengetahuan, terlatih, dan taqorrub kepada Allah. (Menyampaikan sambutan pada Akhirussanah Al-Ihya Tahun 2014).

Pelatihan, ilmu pengetahuan dan pengenalan diri salah satu upaya dan kunci dalam mencetak generasi bangsa.

Semoga dunia pendidikan khususnya bangsa kita bisa melahirkan generasi yang beraktifitas di masyarakat secara orisinal, tidak tentatif, tidak coba-coba melainkan lahir dari tradisi yang di koordinasi dengan kualitas perkembangan zaman dan dengan ini perubahan sosial akan bergerak maju kearah yang lebih bagus, kegelinciran akan bisa diatasi, lompatan penyimpangan yang jauh didalam hidup dijamin tidak akan terjadi.

(Penulis adalah Praktisi Pendidikan  dan alumni Pon-Pes Al-Ihya kaduronyok, Cisata, Pandeglang, Banten)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 + 19 =