Generasi Digital, Petani Masa Depan

0
54
views
Mohamad Baidowi Mahasiswa Pascasarjana Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB (foto: Dok)

Kemampuan membaca sinyal sebagai informasi tersebut seyogyanya dapat membuat petani masa depan mempersiapkan usaha pertaniannya secara sistematis untuk menjadi usaha yang lebih menarik, menguntungkan dan berkelanjutan**

Oleh : Mohamad Baidowi

Era digital merupakan babak baru dalam kehidupan manusia, membawa perubahan secara radikal dan revolusioner, serta mempengaruhi sendi-sendi kehidupan baik secara sosial maupun ekonomi pada berbagai sektor, tak terkecuali sektor pertanian. Prof. Rhenald kasali dalam bukunya yang berjudul “Tomorrow Is Today” menyebut kondisi ini dengan istilah Disruption. Akibat disrupsi, terjadi perubahan yang mendadak dengan cepat dan mengejutkan, membuat produk, jasa, teknologi, perusahaan dan cara-cara berbisnis yang lama, dengan cepat menjadi usang dan tergantikan dengan pesaing baru yang dapat memanfaatkan perubahan dengan baik.

Mungkin banyak orang berpikir dan bertanya-tanya, lantas bagaimana hubungan era digital dengan petani. Memilih menjadi petani dianggap tidak realistis untuk dapat merubah hidup sesuai harapan, belum lagi stereotip terhadap petani yang berkembang dalam lingkungan sosial kerap kali disandingkan dengan kata kemiskinan. Namun sebetulnya era digital membawa harapan besar untuk maju sebagai seorang petani. Lihat saja, belakangan ini banyak bermunculan perusahaan-perusahaan baru yang bergerak dibidang pertanian berbasis digital, seperti Tani hub, sayur box, iGrow, Kecipir dan lain-lain, belum lagi website dan sosial media saat ini sangat mungkin dijadikan sebagai media promosi yang efektif dan efisien.

Artinya kemajuan teknologi informasi berbasis digital dapat dimanfaatkan sebagai jembatan emas untuk menjadi petani maju di masa depan. Berkaca dari bermunculannya perusahaan pertanian berbasis digital dan peluang digital marketing yang menjanjikan, ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan untuk menjadi petani yang maju di era digital, yaitu merubah cara pandang, membaca sinyal, dan memahami market disruption.

Merubah Cara Pandang

Menjadi petani seharusnya tidak sekedar dipandang sebagai sebuah profesi, menjadi petani haruslah dipandang sebagai pejuang, merawat kepribadian budaya, dan bentuk dedikasi nyata dalam menjaga stabilitas Negara, karena petani memproduksi kebutuhan pangan masyarakat dan berkontribusi dalam menjaga tatanan Negara, tanpa petani Negara tentu akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. Itulah mengapa Bung Karno di awal-awal Tahun 50-an mengatakan Petani sebagai Penyangga Tatanan Negara Indonesia dan soal pangan adalah soal hidup matinya suatu bangsa.

 Kemampuan Membaca Sinyal

Generasi era digital dapat dikatakan sebagai petani masa depan, generasi ini diisi oleh generasi milenial dan generasi Z yang lahir pada rentang waktu 1980-2010, generasi ini juga dikatakan sebagai digital native dimana merupakan generasi yang lahir berdampingan dengan perkembangan teknologi berbasis digital. Generasi ini dianggap memiliki kemampuan mumpuni dalam penguasaan teknologi informasi berbasis digital dan menganggap teknologi digital sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya.

Dunia pertanian yang turut terdisrupsi oleh perkembangan teknologi terutama pada sektor hilir, sudah barang tentu menghadirkan sinyal – sinyal yang bisa ditangkap sebagai informasi yang menguntungkan. Misalnya, kehadiran sosial media yang semula dijadikan media interaksi pertemanan, lambat laun berubah menjadi media promosi yang menguntungkan. Kemudian kehadiran e-commerce membuat banyak orang dengan mudah melakukan promosi produknya secara khusus terhadap pasar tanpa terbatas jarak dan waktu, termasuk produk-produk hasil petanian.

Kemampuan membaca sinyal sebagai informasi tersebut seyogyanya dapat membuat petani masa depan mempersiapkan usaha pertaniannya secara sistematis untuk menjadi usaha yang lebih menarik, menguntungkan dan berkelanjutan.

Memahami Market Disruption

Market disruption menurut Rhenald Kasali (2017) merupakan satu kondisi dimana industrinya tetap namun pasarnya yang terdisrupsi. Kondisi ini bisa kita lihat dengan jelas didepan mata kita, misalnya kehadiran e-commerce membuat tempat tidak lagi penting, bahkan tidak sedikit usaha yang gulung tikar karena marketnya beralih ke digital.

Dalam dunia pertanian hal ini bukan tidak mungkin dilakukan, market disruption di dunia pertanian melalui teknologi digital memungkinkan petani langsung berkomunikasi dengan konsumen tanpa terpotong oleh rantai pemasaran yang panjang, kemudahan komunikasi yang dimediasi oleh teknologi memudahkan petani memiliki banyak pilihan untuk mengakses pasar dan modal. Kondisi tersebut memungkinkan petani membuka jalur distribusi secara lebih luas untuk penjualan hasil pertaniannya.

Selain itu, kemudahan komunikasi dan informasi membuat usaha pertanian tidak lagi hanya dicitrakan sebagai produsen, namun bisa juga dicitrakan sebagai destinasi wisata yang bisa memberikan nilai tambah bagi petani, dengan skema yang dipersiapkan dan dianggap memiliki daya tarik untuk menarik pengunjung datang langsung ke lokasi pertanian.

Jadi, merubah cara pandang, kemampuan membaca sinyal dan memahami market disruption merupakan hal yang penting dimiliki oleh petani masa depan, mengingat perubahan terjadi begitu cepat, dan kita tidak dapat menghindari perubahan tersebut, cara satu-satunya adalah menyesuaikan diri dengan perubahan dan memanfaatkan peluang menjadi keuntungan yang membawa kemajuan di masa depan.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, IPB University

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve − five =