
Menjelang Muktamar Nasional, Atribut Mathla’ul Anwar dicopot SatPol PP Serang.
Irwandi: “Ini Penghinaan, Mereka Harus Diajari Sejarah”.
SERANG – Hampir semua atribut Mathla’ul Anwar dicopot satuan polisi pamong praja (SATPOL-PP) Kota Serang, dengan dalih atas instruksi pimpinan, hal ini walikota Serang.
Hal itu sontak mengundang reaksi keras dari keluarga besar Mathla’ul Anwar. Tindakan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Serang dianggap ceroboh dan tak memiliki landasan hukum.
Alih-alih bukannya memberi himbauan atau pun teguran kepada pihak yang memasang atribut yang akan menjadwalkan acara Muktamar ke XXI.
Malah langsung gerak cepat mencopot semua atribut dengan dalih instruksi pimpinan.
Hal itu dinilai sebagai sebuah penghinaan dan pelecehan terhadap Marwah organisasi Islam tertua yang lahir dari tanah Banten.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Generasi Muda Mathla’ul Anwar (DPW GEMA MA) Provinsi Banten, Apt. Irwandi Suherman, memprotes keras tindakan Satpol PP, Rabu (8/4). Pihaknya menuntut Walikota Serang untuk bertanggung jawab penuh dan meminta maaf secara terbuka di hadapan seluruh kader.
“Ini bukan soal bendera biasa. Bendera berlogo Mathla’ul Anwar adalah bendera suci bagi kami, bagi setiap kader yang mengalir darah perjuangannya. Faham gak sih? Kota Serang lagi jadi tuan rumah hajatan besar kader se-Indonesia. Panitia sudah berkali-kali audiensi dengan Walikota. Kok bisa-bisanya berlaku semena-mena? Ini sangat memalukan!” ujar Irwandi dengan geram, Rabu (8/4).
Irwandi menyoroti kebobrokan komunikasi aparatur daerah. Ia menegaskan, jika memang ada pelanggaran prosedur, Satpol PP seharusnya menghubungi panitia terlebih dahulu. Bukan malah bertindak seperti preman yang merusak.
“Panitia ada! Walikota tahu! Kalau sejak awal dikomunikasikan, kami akan dengan hormat memindahkan sendiri. Kami patuh pada aturan, jangan main paksa. Sekarang Satpol PP justru tampil sebagai oknum perusak,” hardiknya.
Lebih lanjut, Irwandi menyebut tindakan aparatur di bawah komando Walikota Serang ini tidak ubahnya pelecehan terhadap ormas Islam yang lahir di Banten. Ia meminta agar tidak ada lagi arogansi kekuasaan yang menginjak harga diri warga Mathla’ul Anwar.
“Ini penghinaan. Walikota harus minta maaf. Jangan cuma diam. Tanggung jawab moral itu wajib. Jangan rusak suasana kebersamaan Muktamar hanya karena ulah aparat yang tidak paham adat, momentum dan harga diri,” tegasnya dengan nada tinggi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Satpol PP dan Walikota Serang belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan keras tersebut.
(Tam)










