Perayaan Hari Valentine di Universitas Ciputra Surabaya tahun ini berlangsung berbeda. Alih-alih bunga mawar dan cokelat, lorong kampus dipenuhi ragam motif batik yang dikenakan mahasiswa dan dosen sejak pagi.
Dari motif parang klasik hingga desain kontemporer berwarna cerah, batik tampil dalam padu padan kasual. Sneaker, denim, rok modern, hingga tote bag kanvas menjadi pelengkap busana. Sejumlah mahasiswa memilih batik bernuansa merah dan merah muda, warna yang identik dengan Valentine.

Suasana akademik pun terasa dinamis. Di ruang diskusi, studio desain, hingga kantin, mahasiswa saling mengamati motif yang dikenakan. Percakapan tentang asal-usul motif dan makna warna mengalir di berbagai sudut kampus. Batik tidak sekadar dikenakan, tetapi menjadi medium dialog.
Perayaan Valentine dimaknai sebagai momentum kebersamaan komunitas akademik dan refleksi identitas budaya. Kampus menghadirkan tafsir alternatif tentang cinta, bukan sebatas relasi romantis, melainkan kepedulian terhadap warisan budaya.
Kepala Program Studi Fashion Design and Business (FDB) Universitas Ciputra, Yoanita Tahalele, B.A., M.A., mengatakan pendekatan tersebut membantu mahasiswa memahami budaya melalui pengalaman langsung. “Budaya tidak cukup diajarkan lewat slide presentasi. Ketika mahasiswa memakainya, mereka sedang menghayati nilai, bukan sekadar menghafal definisi,” ujarnya.
Menurut Yoanita, generasi muda lebih mudah memahami budaya melalui praktik keseharian. Saat batik hadir dalam aktivitas rutin, budaya menjadi dekat dan relevan.
Di ruang kelas, batik dikenakan saat presentasi, kerja kelompok, hingga kegiatan santai. Tidak ada ketentuan khusus mengenai model atau warna. Mahasiswa bebas memadukan sesuai gaya masing-masing.
Dosen FDB Universitas Ciputra, Christina Tanujaya, AdvDip., B.Des., MBA., menilai praktik tersebut sebagai pembelajaran lintas generasi. “Batik membuat mahasiswa tidak lagi melihat pakaian sebagai tren semata, tetapi sebagai identitas dan pesan sosial. Saat mahasiswa dan dosen memakainya bersama, terjadi dialog budaya lintas generasi,” katanya.
Mahasiswa Universitas Ciputra, Antonio Wijaya Capasso, mengaku merasakan perubahan cara pandang. “Biasanya batik terasa formal. Ketika dipadukan dengan gaya sehari-hari, saya lebih percaya diri karena memakai sesuatu yang punya makna,” tuturnya.
Antonio menambahkan, diskusi dengan teman dan dosen membuatnya memahami arti motif yang dikenakan. Ia menyadari bahwa pakaian dapat menjadi sarana menyampaikan cerita.
Perayaan Valentine di Universitas Ciputra menunjukkan pelestarian budaya tidak selalu hadir dalam seremoni formal. Dari lorong kampus hingga ruang kelas, batik dikenakan secara santai dan personal. Di tangan generasi muda, batik tidak hanya dipakai, tetapi dimaknai ulang sebagai bagian dari identitas sehari-hari.












