Ramai Wacana Masa Jabatan Presiden 3 Priode Mencuat

0
103
views
Presiden Jokowi tolak masa jabatan presiden tiga Priode (foto: tangakapan layar/setpres)

salakaNews.com – Usulan masa jabatan presiden dari dua priode menjadi tiga priode muncul kembali ketika Amin Rais mantan ketua MPR dan Mantan pendiri PAN itu menuding ada agenda tersembunyi yang tengah dilakukan pemerintahan Jokowi.

Wacana ini pun pernah muncul di masa Presiden SBY, saat itu Ruhut Sitompul yang menjadi Kader Demokrat mengusulkan masa jabatan presiden ditambah menjadi tiga priode. Hal itu kata Ruhut, lantaran kerap bising da nada gesekan di tengah masyarakat bila Pilkada atau Pemilu hanya dua priode.

Tempo.co pernah menurunkan laporan interaktif dan mewawancarai dua politisi yakni Lukman Hakim Saefudin dan Slamet Efendi Yusuf dan menanggapi gagasan ruhut Sitompul yang mengusulkan masa jabatan presiden dari dua menjadi tiga priode.

Ruhut beralasan wacana tersebut dilontarkan mengingat perubahan politik kerap tidak menentu sehingga masyarakat yang jadi korban dan rusuh.

“selalu saja rusuh. Makanya lebih baik diperpanjang, celah hukum untuk membuat tiga priode itu selalu ada,” kata Luhut seperti dikutif tempo pada Agustus, 2010.

Sementara bagi Lukman Hakim Saefudin dan Slamet Efendi Yusup menguraikan  mengapa masa jabatan Presiden tiga priode tidak perlu dilakukan karena beberapa alas an penting, yakni;

  1. Seseorang akan otoriter
  2. Abuse of power, penyalahgunaan kekuasaan,
  3. Regenerasi kepemimpinan macet
  4. Seseorang menjadi dictator
  5. Timbulnya kultus individu

Alasan itulah yang hingga saat ini beberapa partai dan tokoh nasional menolak adanya wacana tersebut.

Bahkan saat SBY masih manjabat presiden, ia tegas menolak wacana tersebut meski usulan itu dilontarkan oleh anak buahnya.

“ada presiden yang dipilih berulang kali. Peajarannya: kekuasaan yang begitu langgeng menimbulkan permasalahan dan tidak baik di kehidupan bernegara,” kata Susilo Bambang Yudhoyono saat menyampaikan sambutan peringatan Hari Konstitusi di Gedung DPR, pada Agustus 2010.

Kini wacana tersebut digaungkan kembali oleh mantan ketua MPR Amien Rais, namun kali ini yang dilontarkan Amien bukan pada usulan yang disampaikan dirinya. Akan tetapi yang dilontarkan Amien merupakan kehawatirannya dan ia menuding pemerintahan Jokowi tengah berupaya melakukan itu.

Amien ada gelagat yang mengarah ke sana (amandemen undang-undang 1945). Yang mencakup perpanjangan masa jabatan presiden kemudian kemudian pemerintah akan mengambil langkah meminta siding istimewa MPR  untuk menyetujui amandemen tersebut.

“kemudian nanti akan ditawarkan pasal baru yang memberikan hak bahwa presiden itu bisa dipilih tiga kali” kata mantan Pendiri PAN itu.

Sementara Presiden Jokowi menyatakan penolakan terkait wacana tersebut, menurutnya masa jabatan presiden dua priode sudah cukup dan sesuai yang diamanatkan undang-undang, oleh karena itu Jokowi meminta masyarakat lebih baik fokus menghadapi pandemic COVID-19 yang dinggapnya jauh lebih penting.

“saya tegaskan saya taka ada niat, tidak ada juga berminat menjadi presiden priode ketiga” kata Presiden Jokowi, seperti dilansir dari kanal you tube Sekretariat Presiden. Rabu (17/3/2021).

Meski begitu, beberapa kalangan masih meragukan pernyataan Jokowi, hal itu lantaran apa yang dia ucapkan saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, untuk tidak berniat menjadi presiden nyayatanya  berubah dikemudian hari.

Hal itu diungkapkan tokh Papua Christ Wamea, menurutnya pernyataan presiden apa bedanya dengan saat ia menjadi Gubernur DKI Jakarta.

“sama saja dengan sekarang “saya tidak berminat tiga priode”, tulis Crist Wamea di akun twitternya @putrawadapi seperti dikutif salakaNews pada Rabu (17/3/2021). Seraya menuliskan, “dulu saya tidak mikir cupras-capres” tapi capres,” tulisnya.

Berdasarkan fakta-fakta itulah kemudian meragukan Crist Wamea, bahkan ia menilai ucapan tersebut terkesan inkosisten.

“sudah terbiasa inkosisten, jadi rakyat yang berakal sehat pasti ragu,” tandas Wamea.

Sementara ekonom senior Rizal Ramli pun meragukan ucapan Jokowi, meski telah ada bantahan 3 kali dari Jokowi bukan berarti public peracaya, yang menjadi masalah ialah track record antara ucapan vs tindakan yang sering bertolak belakang, bahkan kata Rizal bila perlu Jokowi diminta untuk membuat pernyataan di atas materai guna meyakinkan masyarakat.

“yo ra percaya.. maaf geh omongane sering kewolak walek terus piye le arep percoyo. Mungkin harus bikin pernyataan di atas materai kali ya?” kata Rizal diakun IG-nya.

(red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 − eighteen =